WELCOME TO DON'S WEB
Semoga ANA manfAAte.

Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Kamis, 30 Agustus 2012



Diriwayatkan oleh Imam Bukhari Rahimahullah dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada hari dimana amal shalih pada saat itu lbh dicintai oleh Allah daripada hari-hari ini yaitu Sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Mereka bertanya Ya Rasulullah tidak juga jihad fi sabilillah? Beliau menjawab Tidak juga jihad fi sabilillah kecuali orang yg keluar dgn jiwa dan hartanya kemudian tidak kembali dgn sesuatu apapun.” Imam Ahmad Rahimahullah meriwayatkan dari Umar Radhiyallahu anhuma bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Tidak ada hari yg paling agung dan amat dicintai Allah utk berbuat kebajikan di dalamnya daripada sepuluh hari ini. Maka perbanyaklah pada saat itu tahlil takbir dan tahmid.”

Macam-Macam Amalan yg disyariatkan :
Ø   Melaksanakan Ibadah Haji dan Umrah .  Amal ini adl amal yg paling utama berdasarkan berbagai hadits shahih yg menunjukkan keutamaannya antara lain sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam “Dari umrah ke umrah adl tebusan di antara keduanya dan haji yg mabrur balasannya tiada lain adl Surga.”
Ø   Berpuasa selama hari-hari tersebut atau pada sebagiannya terutama pada hari Arafah.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Qatadah Rahimahullah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Berpuasa pada hari Arafah krn mengharap pahala dari Allah melebur dosa-dosa setahun sebelum dan sesudahnya”.
Ø   Takbir dan Dzikir pada Hari-Hari Tersebut .  Sebagaimana firman Allah Ta’ala “.. dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yg telah ditentukan ..”. . Para ahli tafsir menafsirkannya dgn sepuluh hari dari bulan Dzul Hijjah. Karena itu para ulama menganjurkan utk memperbanyak dzikir pada hari-hari tersebut berdasarkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma “Maka perbanyaklah pada hari-hari itu tahlil takbir dan tahmid”. . Imam Bukhari Rahimahullah menuturkan bahwa Ibnu Umar dan Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhum keluar ke pasar pada sepuluh hari tersebut seraya mengumandangkan takbir lalu orang-orang pun mengikuti takbirnya.
Dan Ishaq Rahimahullah meriwayatkan dari fuqaha’ tabiin bahwa pada hari-hari ini mengucapkan “Allahu Akbar Allahu Akbar Laa Ilaha Ilallah wa-Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu” Artinya “Allah Maha Besar Allah Maha Besar Tidak ada Ilah Yang Haq selain Allah. Dan Allah Maha Besar Allah Maha Besar segala puji hanya bagi Allah”. Dianjurkan utk mengeraskan suara dalam bertakbir ketika berada di pasar rumah jalan masjid dan lain-lainnya. Sebagaimana firman Allah “Dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yg diberikan kepadamu ..”.
Tidak dibolehkan mengumandangkan takbir bersama-sama yaitu dgn berkumpul pada suatu majlis dan mengucapkannya dgn satu suara . Hal ini tidak pernah dilakukan oleh para Salaf. Yang menurut sunnah adl masing-masing orang bertakbir sendiri-sendiri. Ini berlaku pada semua dzikir dan do’a kecuali krn tidak mengerti sehingga ia harus belajar dgn mengikuti orang lain. Dan diperbolehkan berdzikir dgn yg mudah-mudah. Seperti takbir tasbih dan do’a-do’a lainnya yg disyariatkan.
Ø   Taubat serta Meninggalkan Segala Maksiat dan Dosa Sehingga akan mendapatkan ampunan dan rahmat. Maksiat adl penyebab terjauhkan dan terusirnya hamba dari Allah dan keta’atan adl penyebab dekat dan cinta kasih Allah kepadanya. Disebutkan dalam hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya Allah itu cemburu dan kecemburuan Allah itu manakala seorang hamba melakukan apa yg diharamkan Allah terhadapnya” .
Ø   Memperbanyak Beramal Shalih Berupa ibadah sunat seperti shalat sedekah , jihad membaca Al-Qur’an amar ma’ruf nahi munkar dan lain sebagainya. Sebab amalan-amalan tersebut pada hari itu dilipatgandakan pahalanya. Bahkan amal ibadah yg tidak utama bila dilakukan pada hari itu akan menjadi lbh utama dan dicintai Allah daripada amal ibadah pada hari lainnya meskipun merupakan amal ibadah yg utama sekalipun jihad yg merupakan amal ibadah yg amat utama kecuali jihad orang yg tidak kembali dgn harta dan jiwanya.
Ø   Disyariatkan pada Hari-Hari Itu Takbir Muthlaq Yaitu pada tiap saat siang ataupun malam sampai shalat Ied. Dan disyariatkan pula takbir muqayyad yaitu yg dilakukan tiap selesai shalat fardhu yg dilaksanakan dgn berjama’ah; bagi selain jama’ah haji dimulai dari sejak Zhuhur hari raya Qurban terus berlangsung hingga shalat Ashar pada hari Tasyriq.
Ø   Berkurban pada Hari Raya Qurban dan Hari-Hari Tasyriq .  Hal ini adl sunnah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam yakni ketika Allah Ta’ala menebus putranya dgn sembelihan yg agung. Diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “Berkurban dgn menyembelih dua ekor domba jantan berwarna putih dan bertanduk. Beliau sendiri yg menyembelihnya dgn menyebut nama Allah dan bertakbir serta meletakkan kaki beliau di sisi tubuh domba itu”. .
Ø   Dilarang Mencabut atau Memotong Rambut dan Kuku bagi Orang yg Hendak Berkurban Diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya dari Ummu Salamah Radhiyallhu ‘Anha bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Jika kamu melihat hilal bulan Dzul Hijjah dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban maka hendaklah ia menahan diri dari rambut dan kukunya”.
Dalam riwayat lain “Maka janganlah ia mengambil sesuatu dari rambut atau kukunya sehingga ia berkurban”. Hal ini mungkin utk menyerupai orang yg menunaikan ibadah haji yg menuntun hewan kurbannya. Firman Allah ” … dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum kurban sampai di tempat penyembelihan..” Larangan ini menurut zhahirnya hanya dikhususkan bagi orang yg berkurban saja tidak termasuk istri dan anak-anaknya kecuali jika masing-masing dari mereka berkurban. Dan diperbolehkan membasahi rambut serta menggosoknya meskipun terdapat beberapa rambutnya yg rontok.
Melaksanakan Shalat Idul Adha dan mendengarkan Khutbahnya .  Setiap muslim hendaknya memahami hikmah disyariatkannya hari raya ini. Hari ini adl hari bersyukur dan beramal kebajikan. Maka janganlah dijadikan sebagai hari keangkuhan dan kesombongan; janganlah dijadikan kesempatan bermaksiat dan bergelimang dalam kemungkaran seperti; nyanyi-nyanyian main judi mabuk-mabukan dan sejenisnya. Hal mana akan menyebabkan terhapusnya amal kebajikan yg dilakukan selama sepuluh hari.
»»  Baca Selengkapnya...

Rabu, 29 Agustus 2012

Derita Abadi Karena Dengki----------------------

Gelang di tangan orang yang hendak dirampas tidak dapat, cincin di jari sendiri terlucut hilang. Begitulah peribahasa Melayu menggambarkan keadaan orang yang menyimpan rasa dengki. Harapan ingin mendapatkan milik orang tak didapatkan, namun sesuatu yang menjadi milik sendiri dikorbankan. Karena sejatinya pendengki selalu rugi, tak ada keuntungan sedikitpun bagi pendengki. Bahkan, gambaran peribahasa tersebut belum cukup menggambarkan total kerugian orang yang dialami orang yang terjangkiti penyakit dengki.
Derita Para Pendengki
Tak ada yang lebih patut dikasihani melebihi orang yang menderita penyakit dengki. Jika umumnya manusia berpikir dan berbuat untuk sesuatu yang menguntungkan dirinya, atau sekedar menyenangkan hatinya, tidak demikian halnya dengan pendengki. Tak ada keuntungan sedikitpun yang dihasilkan pendengki. Tak ada pula kesenangan hati yang dipanen oleh orang yang hasud.
Kerisauan hati yang tak putus-putus, dialami oleh pendengki saat melihat orang lain mendapat nikmat. Semakin banyak nikmat disandang orang lain, makin menguat gelisah hati pendengki. Ini tidak akan berakhir hingga nikmat tersebut hilang dari orang yang didengki, bahkan terkadang belum terobati juga rasa dengki itu sebelum orang yang didengki tertimpa banyak kerugian. Dari sini kita tahu, betapa jahat seorang pendengki, ia tidak rela melihat orang lain bahagia, sebaliknya ia bersuka cita melihat orang lain bergelimang lara. Allah Ta’ala menggambarkan sikap dengki ini dalam firmanNya, “Bila kamu memperoleh kebaikan, maka hal itu menyedihkan mereka, dan kalau kamu ditimpa kesusahan maka mereka girang karenanya.” (QS. Ali Imran: 120)
Berbeda dengan kesedihan atau musibah yang dialami oleh orang yang bersabar, kegalauan yang terus menerus dirasakan oleh pendengki adalah musibah berat yang sama sekali tidak mendatangkan pahala, bahkan berpotensi menggerogoti kebaikan, sebagaimana api melalap kayu bakar yang telah kering.
Nabi SAW bersabda,
“Hindarilah oleh kalian hasad, karena hasad bisa memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud)
Maksud memakan kebaikan adalah menghilangkannya, membakarnya dan menghapus pengaruhnya, seperti yag disebutkan dalam Kitab Faidlul Qadiir. Ini juga menunjukkan bahwa kebaikan itu bisa sirna dalam sekejap jika terbakar oleh kedengkian. Makin besar api kedengkian, makin cepat melalap habis kebaikan. Al-Manawi di dalam at-Taisir bi Syarhi al-Jami’is Shaghir menjelaskan sebab dihilangkannya kebaikan pendengki adalah, “karena orang yang dengki itu berarti menganggap Allah Ta’ala jahil, tidak bisa memberikan sesuatu sesuai dengan proporsinya.” Ia menganggap Allah salah dalam mengalamatkan nikmat dan karunia. Seakan ia lebih tahu dari Allah tentang siapa yang lebih layak untuk mendapatkannya. Sehingga layaklah pendengki dihilangkan kebaikan-kebaikannya. Sungguh rugi para pendengki, selalu risau di dunia, terancam bangkrut di akhirat.
Membahayakan Diri dan Orang Lain
Efek kedengkian semakin parah ketika pendengki berambisi melampiaskan kedengkiannya. Makin kuat kedengkian dan ambisi melampiaskan, makin besar pula dosa dan bahaya yang ditimbulkan. Baik mengenai diri sendiri, maupun orang lain. Bahkan dosa pertama yang dilakukan oleh iblis disebabkan oleh dengki. Dia menganggap dirinya lebih layak mendapat penghormatan daripada Adam. Karenanya, Iblis berani menentang perintah Allah yang menyuruhnya bersujud. Jadilah iblis sebagai makhluk yang terkutuk, dan dipastikan bakal menempati neraka selamanya. Kedengkian berlanjut, Iblis berusaha dan akhirnya berhasil menggelincirkan Adam. Belum puas, Iblis bersumpah untuk menggoda dan menyesatkan semua keturunan Adam selagi mampu. Dari sini lahirlah segala bentuk kemaksiatan dan dosa yang merupakan syi’ar Iblis dan siasatnya untuk menjerumuskan anak Adam. Sekali lagi, ini bermula dari hasad. Maka hendaknya orang yang menaruh kedengkiannya kepada saudaranya segera menyudahi, sebelum melahirkan segala bentuk dosa yang belum terbayangkan sebelumnya.
Pembunuhan pertama yang terjadi di jagad raya yang dilakukan oleh Qabil terhadap Habil juga disebabkan oleh dengki. Qabil tak bisa menerima kenyataan atas nikmat yang dianugerahkan Allah kepada Habil, saudara kembarnya. Dari sebab yang sepele ini, ketika dipicu oleh dengki, akhirnya berujung kepada pembunuhan yang dilakukan Qabil terhadap saudaranya.
Dan memang, umumnya kedengkian tertuju kepada orang-orang terdekat, saudara, keluarga, teman sejawat, tetangga dan orang-orang yang memiliki ikatan tertentu dengannya. Sebab rasa dengki itu timbul karena saling ingin mendapatkan satu tujuan. Dan itu tak akan terjadi pada orang-orang yang saling berjauhan, karena pada keduanya tidak ada kepentingan yang mengikat satu sama lain.
Bila Hati Bersih dari Rasa Dengki
Kedengkian bermuara dari hubbud dunya, gandrung terhadap dunia. Baik berupa gila tahta sehingga ia dengki terhadap siapapun yang sedang memegang suatu posisi jabatan yang diinginkan. Atau karena ta’azzuz, gila hormat dan merasa diri lebih mulia. Ia keberatan bila ada orang lain lebih dihormati dari dirinya.
Bagi orang yang memiliki orientasi akhirat, juga ingin damai hatinya di dunia, tentu rasa dengki di hati segera dicampakkannya. Karena tak ada untungnya hati mendengki. Jika ternyata yang kita dengki akhirnya masuk jannah, maka bagaimana mungkin kita sakit hati dan dengki kepada orang yang ternyata menjadi penghuni jannah. Jika ternyata yang didengki masuk neraka, buat apa kita kita iri atas nikmat yang disandang oleh orang yang berakhir dengan pendertaan selamanya. Seperti yang diungkapkan oleh Muhammad bin Sirin, “Apa untungnya saya mendengki orang atas sesuatu dari nikmat dunia, jika ia ahli jannah, maka bagaimana saya akan mendengkinya padahal ia ahli jannah? dan jika ia ahli neraka maka untuk apa dengki terhadap orang yang bakal masuk neraka?”
Bersihnya hati dari rasa dengki juga menjadi andalan amal Saad bin Abi Waqas, sehingga dijanjikan Nabi masuk jannah.
Sahabat Anas bin Malik RDL bercerita, Ketika kami sedang bermajlis bersama Nabi SAW, tiba-tiba belia bersabda, “Sekarang, akan muncul di tengah-tengah kalian salah seorang penghuni jannah.” Tak lama kemudian, seorang Sahabat Anshar di hadapan para sahabat dengan kondisi jenggotnya mengalirkan air bekas wudhunya, kejadian itu terjadi sampai tiga hari. Pada hari ketiga, ia diikuti oleh Abdullah bin Umar ke rumahnya, dengan maksud untuk mengetahui kelebihan amal yang dilakukan orang itu. Akan tetapi Abdullah bin Umar tidak mendapatkan sesuatu yang istimewa pada amalan orang itu.Karena penasaran, beliau bertanya tentang amalan yang menjadi unggulannya. Sahabat Anshar itu menjawab, “Saya tidak memiliki kelebihan apa-apa selain yang kamu lihat. Hanya saja, tidak ada dalam hatiku rasa dendam terhadap sesama muslim dan tidak punya rasa iri (hasad) terhadap sesuatu yang Allah telah berikan kepadanya.”
Allah juga memuji kelebihan sahabat Anshar yang tidak mendengki atas kaum Muhajirin yang mendapatkan banyak keistimewaan,
“Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan.” (QS. Al-Hasyr 9)
Para ulama ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan,
Yakni, tidak terdapat dalam hati mereka rasa iri dan dengki atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kaum muhajirin, berupa kedudukan, tingkatan, dan penyebutan yang mendahulukan Muhajirin ketimbang penyebutan Anshar.
Ya Allah jagalah hati kami dari sifat iri dan dengki. Amien.
»»  Baca Selengkapnya...
Ketergesaan yang Diwajibkan----------------------

“Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disiapkan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Ali Imran [3]: 133).
Ketergesaan dalam hampir semua hal akan berakibat buruk bagi para pelakunya, bahkan ada sebuah kalimat yang sering kita dengar “ketenangan adalah kebahagiaan dan ketergesaan adalah penyesalan.”
Namun ada ketergesaan yang diwajibkan, bukan tergesa-gesa tanpa arah dan tujuan, bukan tergesa-gesa tanpa mengindahkan aturan, tapi tergesa-gesa dalam melakukan amal shalih.
Tasarru’, atau ketergesaan dalam beramal shalih sangat dianjurkan dalam Islam, bahkan akan menjadi wajib.
Seruan untuk tergesa-gesa dalam menjemput ampunan Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) dan menjemput surga-Nya, bukan seruan yang menjerumuskan manusia dalam penyesalan dan kehancuran. Bahkan seruan itu memberi jalan kepada kebahagiaan dan surga, membawa manusia kepada antusiasme dan semangat juang yang tinggi. Seruan itu memberikan jalan untuk mencapai syahadah.
Seruan itu ditujukan bagi orang-orang yang bertakwa, orang-orang yang digambarkan oleh Khalifah Umar Radliyallahu ‘anhu (RA) seperti orang yang berjalan di jalan penuh onak dan duri, yang siap menancapi kaki-kaki telanjang yang menginjaknya. Orang-orang yang digambarkan oleh Khalifah Ali bin Abi Thalib sebagai manusia yang mengimani al-Qur’an yang diturunkan (at-tanzil), dan ridha terhadap ketentuan Allah di dunia (qalil), dan orang yang mempersiapkan diri untuk perjalanan yang jauh menuju akhirat (rahil).
Menyambut ampunan, menyambut surga dan menyambut seruan Allah SWT, harus dilakukan dengan segera, lebih cepat dari mengantarkan jenazah ke liang lahat, lebih cepat dari membayar hutang, bahkan harus lebih cepat dari seorang mempelai mendatangi pasangannya.
Tindakan bersegera dalam menyambut ampunan akan berujung pada puncak kebahagiaan, kenikmatan tiada-tara dan kepuasan lahir dan batin, karena balasanya adalah akhirat yang kekal dan abadi. Sementara ketergesaan pada urusan lain seringkali berujung pada penyesalan, keburukan, atau hanya memberi manfaat yang sangat sedikit, di dunia semata. Sungguh sangat berbeda antara bumi dan langit.
Seruan serupa juga dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) yang mulia, manusia yang selalu menyambut dengan gegap gempita setiap panggilan Allah SWT, bersama sahabat-sahabat yang mulia.
Sebuah seruan yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Bersegeralah kalian dalam amal shalih, karena akan terjadi fitnah seperti sepotong malam yang gelap gulita, seorang laki-laki beriman di pagi hari, menjadi kafir di sore hari, dan seorang laki-laki beriman di sore hari, menjadi kafir di pagi hari, menjual agamanya dengan kekayaan dunia.” (Riwayat Muslim, Al-Albani mengatakan bahwa lafadh Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).
Seruan yang dilakukan Nabi SAW kepada sahabat-sahabatnya, termasuk kita hari ini, menunjukkan betapa besar akibat yang ditimbulkan dari menunda atau tidak bersegera dalam beramal shalih. Sehingga akhirnya fitnah mendahuluinya, huru-hara, dan peristiwa buruk yang terjadi di dunia, seperti sepotong malam yang gelap gulita. Sepotong malam, yang menjadikan seorang beriman pada pagi hari, dan kafir pada sore harinya, atau beriman pada sore dan kafir pada pagi hari, hanya karena harta dunia yang tidak seberapa, dan menjual kekayaan terbesarnya yaitu keimanan.
Kita akan kembali sejenak, kembali pada sebuah kisah yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Mengingat kembali ketika perang Uhud berkecamuk, perang terbesar dalam sejarah perkembangan Islam setelah perang Badar. Ketika seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW, “Bagaimana menurut engkau (wahai Nabi) jika saya mengatakan, di manakah saya?” Beliau menjawab, ‘Di surga.’ Maka pemuda itupun melemparkan kurmanya yang ada di tangannya, kemudian bertempur hingga ia meninggal.”
Seorang pemuda beriman, pemuda pemberani, pemuda yang tidak mau lagi menunda sedikit pun untuk menjemput surganya walau hanya sekedar mengunyah kurma. Pemuda yang tidak ingin kesempatannya berlalu lalu kemudian hilang. Seorang yang tidak terkalahkan oleh bisikan nafsunya untuk berhenti, menunda dan atau bahkan meninggalkannya. Ia berhasil mengendalikan dirinya, ia sangat tahu kapan ia harus bersabar dan kapan harus terburu-buru. Ia berhasil mengalahkan keinginannya untuk menikmati manisnya kurma dan bersegera menuju manisnya surga yang tiada-tara.
Lalu apakah kita akan menunda hingga usia menjelang? Usia yang mengaburkan pandangan mata kita, melemahkan tulang punggung kita, memutihkan rambut kita dan merontokkan gigi kita? Atau apakah kita menunda hingga kefakiran menimpa kita?
Ketika kita tidak mampu lagi menginfaqkan harta, walau hanya satu rupiah kepada orang lain, ketika kita sedemikian sibuk bekerja. Bekerja dan bekerja karena hasil yang kita peroleh tidak mencukupi untuk mengganjal perut kita, atau keluarga kita?
Ataukah kita menunggu hingga penyakit menggerogoti tubuh kita? Penyakit yang membuat kita diam tak berdaya, kaku, kelu dan lemah tak bertenaga. Penyakit yang membuat kita tak mampu berdiri dengan tegak menyembah Allah, penyakit yang membuat orang lain mengasihani kita. Ataukah kita menunggu hingga kekayaan berpihak kepada kita, ketika semua dapat terbeli dengan uang, ketika setiap detik kita bernilai jutaan rupiah, ketika semua manusia tersenyum menyapa karena segan dengan kekayaan kita? Atau ketika kekayaan itu membuat diri kita sangat sibuk dan lupa segalanya?
Ataukah kita menunggu datangnya peristiwa terburuk yang ditunggu? Datangnya Dajjal, yang berjalan di muka bumi menipu menusia, mengatakan kebenaran sebagai kebatilan, dan kebatilan sebagai kebenaran. Maka nerakanya adalah surga kita, dan surganya adalah neraka kita.
Katakan tidak! Kita tidak akan menunggu, hingga penyesalan terdalam akan muncul dari diri kita. Kita tidak akan menunda hingga usia tua, hingga kekayaan atau kemiskinan menghampiri, hingga sakit menggerogoti, hingga kondisi prima dan fit menjadi lemah tanpa daya.
Saat ini adalah saat terbaik kita. Semuda apapun kita, setua apapun kita, semiskin apapun kita, sekaya apapun kita, sesehat apapun kita, sesakit apapun kita. Saat ini adalah saat terbaik kita, untuk menyambut seruan Allah dengan segera, untuk menyambut surga kita yang luasnya seluas langit dan bumi.
Saat ini adalah saat terbaik untuk menyambut ampunan Allah. Inilah saat kita berlari, bersegara dan terburu-buru menyambut semua itu. Tanpa kita sisakan sedikit pun ruang untuk kemalasan, menunda dan berleha-leha. Itulah salah-satu ciri manusia bertakwa, manusia yang selalu menyambut dengan segera seruan Allah, semoga kita termasuk di antara mereka.
»»  Baca Selengkapnya...