Dalam sebuah seminar, Dr.Mujizat Kawaroe dari Pusat Penelitian Surfactant dan Bioenergi IPB menyebutkan bahwa microalga sangat prospektif untuk dikembangkan sebagai bio-fuel. Petumbuhannya cepat, bisa dipanen dalam 7 sampai 10 hari, dan menghasilkan yield sampai 30 kali lebih banyak dibanding tumbuhan darat.
Berdasarkan hasil perhitungan pengolahan alga, seperti ditulis oleh Oilgae.com, pada lahan eluas 10 juta acre ( sekitar 5 juta hektar) mampu menghasilkan bio-fuel yang dapat enggantikan seluruh kebuthan solar di Amrik. Hebatnya luas lahan yang dibutuhkan hanya 1 % dari total luas lahan yang digunakan untuk lahan pertanian dan padang rumput. Diperkirakan alga mampu menghasilkan minyak 200 kali lebih banyak dibandingkan dengan tumbuhan penghasil minyak (kelapa sawit, jarak pagar , dll ).
Hasil riset National Renewable Energy Laboratory Colorado menunjukkan bahwa untuk luas lahan yang sama , alga dapat menghasilkan minyak 30 kali lebih banyak dibanding tanaman darat.
Hal lain yang membuat mikro alga tepat dikembangkan di Indonesia adalah besarnya potensi perairan di Indonesia, berpadu dengan iklim tropis yang menyediakan sinar matahari sepanjang tahun.
Sedangkan alga yang dikembangkan untuk biofuel adalah alga yang memiliki kandungan lemak tinggi, karena dari lemak inilah akan diperoleh minyak. Beberapa alga yang potensial untuk dikembangkan antara lain : Chlorella dan Dunaliella. Dari 1000 liter alga mampu menghasilkan biofuel sebanyak 22,5 liter.
Oleh : Baedoni
Tidak ada komentar:
Posting Komentar